tulisan ini dilatarbelakangi dengan kedatangan saya ke RS tadi siang. Karena saat ini saya berdinas di Kota Madiun, maka saya datang ke RS Umum Daerah Dr. Soedomo yang letaknya pun tidak jauh dari kos saya.
Saya akan menulis bahwa manajemen di RSUD ini cukup BURUK.
mulai dari database pasien baru, kemudian ruang pemeriksaan yang dicampur dengan pasien lain, serta proses klaim asuransi yang cukup rumit.
saya tidak akan menguraikan dengan rinci prosesnya, alih alih bercerita malah saya akan menjadi Prita ke 2. ;p
yang menarik bagi saya adalah manajemen pengelolaan rumah sakit di Indonesia. Bagi saya hal ini menjadi menarik. contoh kecil misalnya, proses pendataan pasien secara computerized.
Untuk rumah sakit di kota sekelas Madiun ini memang sudah selayaknya database pasien ini dilakukan secara komputerisasi. jadi dari meja informasi, pasien langsung ditanya identitas serta keluhan, kemudian diarahkan ke k poli yng spesifik dengan kartu tertentu, kemudian dokter akan mengirim resep ke bagian farmasi dengan jaringan LAN misal, sehingga juga akan mengurangi pemakaian kertas yang berlebihan, yang dampaknya juga mengurangi biaya operasional RS tersebut.
Kemudian hal yang kedua dipahami adalah bahwa RS sangat erat kaitannya dengan desain dan tata ruang. kondisi RS yang harus selalu steril dan higienis memaksa para arsitek dan kontraktornya harus membuat banguna yang layak bagi kesehatan. contoh, adanya smoking area bagi para perokok. bagi saya pribadi, smoking area di RS itu haram hukumnya, ini seperti menempatkan bar di luar mushola. Oke, ini terletak di luar bangunan, namun secara gambaran besar, ini tidak sesuai dengan tujuannya.
Hal yang ketiga adalah pelayanan terhadap pasien, untuk semua kalangan seharusnya dapat mengakses fasilitas kesehatan ini, proses peracikan obat yang cepat dan tepat, serta akses informasi pasien terhadap obat yang diberikan.
dengan keadaan pengelolaan rumah sakit seperti ini, bagi saya menimbulkan ide bisnis Manajemen Rumah Sakit atau lembaga konsultasi manajemen fasilitas ksehatan.
Jumlah rumah sakit di Indonesia ada sekitar 1500 RS, dengan keadaan RS di daerah masih banyak yang belum terakreditasi. jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan peningkatan ekonomi di daerah Indonesia Timur.
Menurut analisa perekonomian di dunia akses fasilitas kesehatan, di samping high-education, merupakan salah satu bentuk bubble economy. Sehingga potensi ini sesungguhnya masih besar untuk digali.
