Iya, Memang Beda

laskar-pelangi

Iya, Memang Beda

Ulasan tentang pilem Laskar Pelangi.

Saia sadar kok sudah banyak yang nulis review tentang pilem ini. Ah terserah mereka dari sudut pandang apa saja, tidak peduli. Tapi intinya sih tetap sama.
Bagus.
Mendidik.
Ada tawa
Ada getir
Ada tawa dalam getir yang terangkum dalam kepolosan anak2.
Ah
suatu hal yang mengharukan.

Kalo secara teknis, so far so good. Scene yang menarik. Penambilan gambarnya yang di luar kebiasaan banyak sutradara Indonesia. Terus didukung paparan alamnya yang oke punya. Terutama pas mereka semua ke pantai.
Hahaha saia baru tau ada pantai kaya gitu di Indonesia
*maap saia gak pernah kemana2 si. hehe
Musiknya yang menarik, dan emang music directornya ternyata Wong Aksan. Yaah, ini si gak usah dipertanyakan lagi kapasitasnya.haha
Aksen melayu yang khas, terdengar dari beberapa nada dan beat yang diambil. Meriah namun tetap mendayu.*halah apaan sih..

Tapi tetap saja yang menjadi inti adalah jalan cerita yang sangat menyentuh. Mengingat, para bocah ini, gak ada yang aktor/aktris terkenal. Salut buat kesungguhan mereka dan totalitasnya dalam pilem ini.
Buat si Ikal, two thumbs up!.
Buat yang lainnya juga ada mahar, yang ternyata ngerti juga soal jazz.
Dan A ling yang cantik. Lucu. Hehe
Dan satu tokoh yang yang menjadi garis merah cerita ini. Lintang. Penjiwaannya kuat banget.
Satu tokoh lagi, yakni Flo. Manis. Menarik. Cantik. Saia gak ngira klo Flo bakal secantik itu. Karena saia pernah liat Flo versi dewasa *versi saia juga tentunya. hahaha. And she’s beautiful.

Aktor yang lain benar2 gak penting di sini. Misal Slamet Rahardjo, Mathias Muchus, Rieke Dyah, Apalagi Tora Sudiro, semuanya tenggelam karena karakter yang kuat Laskar Pelangi itu dan Bu Mus tentunya.
Cut Mini tetap cantik, meskipun didandanin kaya gimana,hehe

Jalan ceritanya memang sedikit beda dengan novelnya. Karena, penggambaran dengan kata2 dan gambar adalah sesuatu yang jauh berbeda.
Semua pilem adaptasi novel memang seperti itu adanya, ya ditambah bumbu2 komersil sedikit2 sih, hehe

Banyal yang kecewa.
Buat para pembaca novel yang hobinya membaca dengan mata. Karena terkadang meraka sampai hafal titik dan komanya.

Banyak yang kecewa
Buat para pecinta aktor dan aktris terkenalnya, karena mereka gak terlalu berpengaruh di pilem ini.

Banyak yang kecewa
Karena bahasa yang digunakan agak aneh,aksen yang kurang familiar. Karena aksen daerah di Pilem kita itu kebanyakan dari Jawa (sunda termasuk lho, hehe)

Banyak yang tidak mengerti
Terutama untuk anak2 yang masih SD kayanya masih susah ditangkap makna dari pilem ini. Meskipun mayoritas penontonnya adalah kaum bocah ini, supaya mau belajar sih.hehe

Tapi satu hal
Yang sama
Hampir semua orang menangis
Saat adegan Lintang pergi dari sekolah.
Sebenarnya adegan itu secara teknis biasa saja.

Pendek.
Sepi.
Tanpa banyak kata
Tanpa banyak gambar
Tapi
Sejuta makna, bahkan lebih…

Adegan itu bukan adegan yang dapat dipahami dengan mata, kata-kata, telinga.
Tapi adegan yang hanya dapat dipahami dengan hati

Karena itu, buat para pembaca yang membaca dengan hati, yang mengerti bahwa ada hal2 yang tidak dapat ditafsirkan dengan gamblang oleh panca indera, melihat pilem ini akan merasa puas. Senang.

Iya, meskipun berbeda
Intinya sama.
Pendidikan adalah hak semua warga negara, baik miskin, jelek, jauh di ujung pulau, yatim piatu. Karena pendidikan adalah sesuatu yang hakiki, layaknya nafas bagi semua makhluk hidup. Substansial.

Saia cuma berpikir singkat.
Masihkah ada yang peduli pada pendidikan di negeri ini?
Masihkah ada nurani dari hati kita yang berkata bahwa pendidikan kita ternyata mahal ?
Ternyata semua kosong..
Yang mengerti dan peduli terhadap pendidikan miskin adalah mereka yang pernah, dan mau tetap miskin.

Dan saia yakin bahwa masih ada jutaan, atau bahkan lebih, anak yang bernasib seperti Lintang di negeri ini.
Negeri yang katanya kaya akan sumber daya alam
Namun miskin akan hati nurani.

Bahkan saia, maaf.
*tapi terus mencoba jadi lebih baik kok, hehe

P.S.
Saia nonton pilem ini di Cinere Mal, baru pertama kali, karena baru pindah ke sana juga. Ternyata studionya kecil banget, wah old school banget deh. Khas 21 jaman dulu, hahaha. Tapi rame banget. Soalnya murah, tiketnya cuma ceban, alias 10rb.hoho

Leave a comment

Filed under pilem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s