Perlindungan terhadap Hak Cipta mengenai penggunaan piranti lunak di Indonesia

Pendahuluan
Keadaan dunia teknologi di Indonesia akhir-akhir ini cukup signifikan perkembangannya, khususnya di bidang teknologi mengenai dunia komputer. Mulai dari anak kecil hingga oran tua sudah mengerti tentang komputer. Namun, perkembangan ini tidak diikuti oleh kesadaran masyarakat dalam menggunakan software yang asli. Software palsu dengan mudah dapat kita temukan di pusat perbelanjaan, penjualan komputer, bahkan terkadang disewakan dengan harga yang sangat murah. Terkadang jika software yang asli belum dikeluarkan, tetapi versi palsunya sudah beredar di masyarakat, tetap dengan harga yang murah.

Tuntutan dari para pembuat software terhadap pembajakan software oleh para penjual komputer di kawasan pusat penjualan komputer di Jakarta beberapa waktu yang lalu membuat masyarakat pengguna komputer panik. Ditambah lagi dengan dilakukannya penertiban software bajakan oleh tim yang terdiri dari pihak Kepolisian, Kejaksaan Agung dan Vendor pembuat software yang dirugikan. Penertiban ini selanjutnya akan berkembang ke kantor-kantor swasta dan pemerintah, warnet, rental komputer, dsb. Hal ini terutama dilakukan kepada institusi bisnis yang bersifat komersil yang mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan software tersebut.

Produk software yang saat ini banyak beredar versi bajakannya adalah software-software produk dari Microsoft Corp. Penyalahgunaan dan pembajakan software Microsoft Windows itu sendiri banyak dilakukan oleh masyakarat antara lain karena memang produk itulah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat sementara harga produk tersebut harganya relatif mahal. Untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keuangan masyarakat sendiri, sebenarnya produk-produk yang dijual oleh para vendor pembuat software juga bisanya bervariasi. Mulai dari yang harganya lebih murah dengan mengurangkan beberapa fitur. Misalnya ada versi standar yang bisa digunakan oleh para pengguna perorangan (Home Edition), versi profesional yang bisa digunakan oleh para pengguna profesional serta perusahan skala kecil dan menengah dan versi Enterprise Edition yang biasa dipergunakan oleh para pengguna dari kalangan perusahan berskala besar atau perusahaan multinasional.

Perlindungan terhadap Hak cipta piranti lunak yang asli.
Beberapa hal baru dari ketentuan Undang-Undang No 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta adalah mengenai data base yang merupakan salah satu ciptaan yang dilindungi, alat apa pun,baik memakai kabel maupun tidak memakai kabel, prodik-produk cakram optik (optical disc), hak informasi manajemen elektronik, dan sarana kontrol teknologi, produksi berteknologi tinggi, termasuk program komputer . Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta (Undang-undang Hak Cipta) Bab I Pasal 1 menyebutkan hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai suatu pelanggaran hak cipta apabila perbuatan tersebut melanggar hak eksklusif dari pencipta atau pemegang hak cipta . Pembajakan software adalah pelanggarakan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau lebih khususnya adalah pelanggaran terhadap hak cipta.

Dalam pasal 15 disebutkan klausula-klasula yang menjadi pengecualian dari hak cipta, artinya dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan bukanlah pelanggaran terhadap hak cipta. Di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta;
2. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar pengadilan;
3. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan :
a. Ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; atau
b. Pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta;
4. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra, kecuali jika perbanyakan itu bersifat komersial;
5. Perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya;
6. Perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur, seperti ciptaan bangunan;
7. Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik program komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri.

Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Undang-undang Hak Cipta disebutkan bahwa program komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila digabungkan dengan media yang dapat dibaca dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi-fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus, termasuk persiapan dalam merancang instruksi-instruksi tersebut. Hal inilah yang menjadikan suatu software perlu dilindungi.

Pada Undang-undang Hak Cipta terdapat beberapa pasal yang berkaitan dengan ketentuan spesifik dengan software termasuk sanksi pidananya, antara lain :
1. Pasal 2 Ayat (2), pencipta atau pemegang hak cipta atas karya sinematografi dan program komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial.
2. Pasal 15 Huruf (g), pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik program komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri.
3. Pasal 30 Ayat (1), tentang hak cipta atas ciptaan program komputer berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan.
4. Pasal 45 – 46, tentang lisensi piranti lunak (Software).
5. Pasal 56, hak cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi.
6. Pasal 72 Ayat (1), barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana minimal 1 bulan dan/atau minimal Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah), atau pidana penjara maksimal 7 tahun dan/atau denda maksimal Rp. 5.000.000.000,- (Lima Miliar Rupiah).
7. Pasal 72 Ayat (2), barangsiapa dengan sengaja menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta pidana penjara maksimal 5 tahun dan/atau denda maksimal Rp. 500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah).
8. Pasal 72 Ayat (3), barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program komputer dipidana dengan pidana penjara maksimal 5 tahun dan/atau denda maksimal Rp. 500.000.000,- (lima Ratus Juta Rupiah).

Jenis-jenis lisensi
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu .
Ada beberapa jenis lisensi yang diberikan terhadap suatu software, antara lain : lisensi komersial, lisensi percobaan software (Shareware), lisensi untuk penggunaan non komersial, lisensi freeware, dan lisensi lain (Open Source) .

1.Lisensi komersial
Lisensi yang diberikan kepada software-software yang bersifat komersial dan digunakan untuk kepentingan-kepentingan komersial (bisnis). Misalnya : Sistem operasi Microsoft Windows (98, ME, 200, 2003, Vista), Microsoft Office, PhotoShop, Corel Draw, Page Maker, AutoCAD, Software Aniti Virus (Norton Anti, MCAffee, Seagate, AVG, dll), Software Firewall (Tiny, Zona Alarm, Seagate, dll).

2.Lisensi percobaan software (Shareware)
Jenis lisensi yang diberikan kepada software-software yang bersifat percobaan (trial atau demo version) dalam rangka uji coba terhadap software komersial yang akan dikeluarkan sebelum software tersebut dijual secara komersial atau pengguna diijinkan untuk mencoba terlebih dahulu sebelum membeli software yang sebenarnya (Full Version) dalam kurun waktu tertentu, misalnya 30 s.d. 60 hari.

3. Lisensi untuk penggunaan non kemersial
Lisensi yang diberikan kepada software-software yang bersifat non komersial dan digunakan untuk kepentingan-kepentingan non komersial seperti pada instritusi pendidikan (sekolah dan kampus) dan untuk penggunaan pribadi.
4. Lisensi Freeware
Lisensi yang diberikan kepada software-software yang bersifat mendukung atau memberikan fasilitas tambahan (tools) dengan kemampuan yang terbatas dibandingkan dengan versi yang untuk penggunaan komersial (bisnis).

4. Lisensi lain (Open Source)
Lisensi yang diberikan kepada software-software yang bersifat Open Source atau menggunakan hak cipta publik yang dikenal sebagai GNU Public License (GPL). Adapun prinsip dasar GPL berbeda dengan hak cipta, GPL pada dasarnya berusaha memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi pencipta software untuk mengembangkan kreasi perangkatnya dan menyebarkannya secara bebas kemasyarakat umum. Tentunya dalam penggunaan GPL ini kita masih terikat dengan norma, nilai dan etika. Misalnya sangat tidak etis jika kita mengambil software GPL kemudian mengemasnya menjadi sebuah software komersial dan mengklaim bahwa software tersebut adalah hasil karya atau ciptaannya atau bahkan memperdagangkannya.

Macam cara pembajakan piranti lunak
Kemudian dari beberapa lisensi yang telah disebutkan menjadi beberapa lisensi, di antaranya ialah Open Licence, Original Equipment Manufacture (OEM), Full Price (Retail Product), Academic License, Lisensi khusus bagi Independen Software Vendor (ISV). Dari contoh lisensi tersebut, mulailah pembajakan software dilakukan.
Berikut ini adalah jenis-jenis pembajakan software yang sering dilakukan, antara lain :
1. Hardisk Loading
Jenis pembajakan software yang tergolong pada Hardisk Loading adalah pembajakan software yang biasanya dilakukan oleh para penjual komputer yang tidak memiliki lisensi untuk komputer yang dijualnya, tetapi software-software tersebut dipasang pada komputer yang dibeli oleh pelangganya sebagai “bonus”. Hal ini banyak terjadi pada perangkat komputer yang dijual secara terpisah dengan software. Pada umumnya ini dilakukan oleh para penjual komputer rakitan atau komputer (Clone Computer).

2. Under Licensing
Jenis pembajakan software yang tergolong pada Under Licensing adalah pembajakan software yang biasanya dilakukan oleh perusahaan yang mendaftarkan lisensi untuk sejumlah tertentu, tetapi pada kenyataanya software tersebut dipasang untuk jumlah yang berbeda dengan lisensi yang dimilikinya. Biasanya dipasang lebih banyak dari jumlah lisensi yang dimiliki perusahaan tersebut. Misalnya, suatu perusahaan lisensi produk CorelDRAW dari perusahaan Corel. Perusahan tersebut membeli lisensi produk CorelDRAW untuk 25 unit komputer. Kenyataanya komputer yang menggunakan software CorelDRAW, misalnya ada 40 unit komputer. Perusahaan tersebut jelas telah melakukan pelanggaran Hak Cipta dengan kategori Under Licensing untuk 15 unit lain komputer yang digunakan, yaitu dengan menggunakan software CorelDRAW tanpa lisensi yang asli dari Corel.

3. Conterfeiting
Jenis pembajakan software yang tergolong pada Conterfeiting adalah pembajakan software yang biasanya dilakukan oleh perusahaan pembuat software-software bajakan dengan cara memalsukan kemasan produk (Packaging) yang dibuat sedemikian rupa mirip sekali dengan produk aslinya. Seperti : CD Installer, Manual Book, Packaging, dll.

4. Mischanneling
Jenis pembajakan software yang tergolong pada Mischanneling adalah pembajakan software yang biasanya dilakukan oleh suatu institusi yang menjualnya produknya ke institusi lain dengan harga yang relatif lebih murah, dengan harapan institusi tersebut mendapatkan keuntungan lebih (revenue) dari hasil penjuala software tersebut. Sebagai contoh misalnya suatu lembaga pendidikan, melakukan kerja sama dengan pihak Microsoft Indonesia untuk membeli lisensi produknya, karena merupakan salah satu institusi pendidikan, maka akan mendapatkan harga khusus dari Microsoft Indonesia untuk pembelian lisensi (Academic License). Sebagai contoh, untuk pembelian lisensi produk Microsoft Windows XP Profesional, lembaga pendidikan ini hanya membayar sebesar $ 2/Lisensi. Kemudian untuk mendapatkan untung, lembaga pendidikan ini menjual software Windows XP Profesional tersebut berikut dengan lisensinya ke perusahan lain dengan harga yang lebih tinggi namun tetap di bawah harga pasar.

5. End user copying
Jenis pembajakan software yang tergolong pada End user copying adalah pembajakan software yang biasanya dilakukan oleh sesorang atau institusi yang memiliki satu buah lisensi suatu produk software, tetapi software tersebut dipasang pada sejumlah komputer.

Kesimpulan
Pembajakan software di Indonesia saat ini sudah mencapai taraf memperihatinkan. Dengan mudahnya software-software bajakan didapatkan saat ini. Mulai dari dijual di pusat-pusat perbelanjaan, pusat penjualan komputer, bahkan sampai disewakan. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya perlindungan terhadap software yang asli. Alasan mengapa suatu produk software perlu dilindungi dijelaskan dalam Undang-Undang Hak Cipta Pasal 1 butir 8 yang menyebutkan program komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila digabungkan dengan media yang dapat dibaca dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi-fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus, termasuk persiapan dalam merancang instruksi-instruksi tersebut.

Dengan demikian mulai sekarang sebaiknya kita menghindari penggunaan software bajakan. Bagi para masyarakat pengguna komputer khusunya bagi para pengusaha yang melakukan kegiatan bisnis dan mendapatkan keuntungan dengan mempergunakan software tersebut, sebaiknya menggunakan produk asli atau menggunakan produk dengan lisensi Open Source seperti Linux yang memungkinkan sekali untuk dapat menggunakan produk asli dengan biaya yang relatif terjangkau. Apabila terpaksa menggunakan software dengan lisensi komersial, pilih kebutuhan software dengan kondisi keuangan. Misalnya bagi para pengguna sistem operasi Microsoft Windows XP, mulailah terbiasa dengan menggunakan produk versi murah dari Microsoft Windows XP Home Editions maupun Microsoft Windows XP Started Edition atau Microsoft Windows versi Bahasa Indonesia.

Dirangkum dari berbagai sumber

Abdul Rasyid Saliman, dkk., Hukum Bisnis Untuk Perusahaan: Teori dan Contoh Kasus, Prenada Media Group, Jakarta, 2006
Dirjen HAKI, Dep. Hukum dan HAM, Buku Panduan Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta, 2007

Mochammad Wahyudi, Fenomena Pembajakan Software di Indonesia.

U No 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta

2 Comments

Filed under Hukum Bisnis, Law, Uncategorized

2 responses to “Perlindungan terhadap Hak Cipta mengenai penggunaan piranti lunak di Indonesia

  1. bocahpinggiran

    terima kasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s