Terhanyut dalam Gelombang Senyap

kraton03

Judul yang aneh. Ya. Tentu saja kalau mengalami sesuatu yang aneh, pasti saia langsung akan menulis. beberapa hari yang lalu, dalam lburan 2 minggu yang aneh ini, saia ikut dalam prosesi malam 1 suro 1942 berdasarkan penanggalan Jawa atau 1 Muharam 1430 H di keraton Jogyakarta. Saia sudah 4 tahun d kota Jogjakarta, namun belum pernah mengikuti acara ini. Entah kenapa, karena saia pun tidak tertarik. Tadinya hanya ingin menjadi seksi dokumentasi saja seperti biasa, namun karena tidak ada kamera, ya sudah, ikut dalam bagian acaranya saja.

Saia, lebih tepatnya kami,(saia, adit, larry, bara), berangkat ke alun2 utara keraton pukul setengah 12 malam, tidak lama kemudian iring2an itu keluar didahului oleh rombongan abdi dalem yang membawa panji2 atau bendera, dan tentu saja sang merah putih paling depan. Baru kemudian diikuti oleh para rakyat biasa, dan para turis,hehehe

Ya benar, saia bisa jamin dari sekitar 5000an orang yang mengikuti prosesi ini hampir 50% tidak tahu apa arti sebenarnya dari acara ini. Termasuk saia. Mengapa harus berjalan sejauh ini, memutari benteng, harus diam pula. Gak boleh minum, apalagi ngemil.

Menurut cerita bapaknya teman saia, dulu ketika mataram hendak diserang, HB kebingungan untuk mencari siasat perangnya. Oleh karena itu dia menjalankan tirakat dengan mengelilingi bentengnya dengan tapa bisu, yang akhirnya dia mendapat wangsit untuk memenangi peperangan tersebut.

Secara resmi kraton tidak melakukan acara tersebut. Namun dilakukan oleh para abdi dalem kerajaan yaitu bekas pegawai pemerintahan di DIY dan abdi dalem Punokawan yang mengabdi di Kraton Ngayogyakarto. Sebagian masyarakat umum juga ada yang melakukan secara berkelompok maupun perseorangan.

Prosesi Mubeng Benteng yang dilakukan abdi dalem Keprajan dan Punokawan diawali dari halaman Bangsal Ponconiti, Keben kompleks kraton. Prosesi dimulai sekitar pukul 23.00 WIB yang dihadiri pula adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Joyokusumo. Sebelum prosesi dimulai dilakukan pembacaan macapat atau tembang berbahasa Jawa selama lebih kurang 1,5 jam.

Semua bendera atau panji lambang lima kabupaten dan kota di DIY serta panji abdi dalem keprajan dibawa serta saat acara tersebut. Di depan barisan bendera panji diusung pula bendera negara RI, merah putih. Semua abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki. Sedang warga biasa berpakaian biasa mengikuti dibelakang rombongan.

Prosesi mengelilingi tembok kraton sejauh 6 kilometer selama lebih kurang 2,5 jam itu dimulai dari Keben melewati Jl Rotowijayan, Jl Kauman, Haji Agus Salim Notoprajan, Jl Wachid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, MT Haryono/Gading, Pojok Beteng Wetan/Brigjen Katamso, Jl Ibu Ruswo dan berakhir di pagelaran Kraton di Alun Alun Utara.

“Tapa bisu ini mengandung maksud untuk memperingati tahun baru Islam atau lebih dikenal 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan terutama bagi warga Jogajakarta dan negara Indonesia,” kata panitia pelaksana Mubeng Beteng, KRT Projo Haryono.

kraton01

Terlepas dari makna yang ada. Saia cukup senang di dalam lautan massa tersebut dibanding menjadi tukang poto seperti biasanya. Karena dapat larut dalam suasana itu sendiri. Murnian,ahahah

Oke saia list tipe orang yang ada,
Mulai bayi dalam keretanya, sampai orang tua yang naik kursi roda.
Ada yang pakai perlengkapan jogging, lengkap dengan sepatu nike running hingga yang memakai kruk untuk menyangga kakinya.
Cewek,cowok, bencong (mungkin ada.ehehe).
Pasangan suami istri bahkan pasangan homoseksual juga ada.
Jalan kaki atau menuntun sepedanya.
Para barisan tukang pukul yang bertato hingga polisi.
Warga lokal jogjakarta, sampai seorang bule cewek yang mengendong anaknya yang tertidur.
Dari mulai yang wangi parfum kaya mau kondangan, bau ketek bercampur keringat, hingga aroma dupa yang dibawa oleh seorang anak kecil.
Semua agama, semua ras, bahkan semua makhluk, kalau ada makhluk dunia lain yang ikut.hehehe

Semuanya tumplek menjadi satu kaya gado-gado. Berjalan beriringan, terangkai menjadi satu dalam jalan yang sama. gerakan yang sama, dan gelombang yanng sama. Gelombang Senyap.

Pada awalnya sih saia masih senyum2, ketawa dalam hati tentunya, melihat tingkah laku orang2 ini. Bayangkan dari 5000an orang itu benar2 sepi, yang terdengar hanya orang2 yang menonton di pinggirjalan, serta suara derap kaki bersepatu atau bahkan suara sendal yang sudah enggan lagi diangkat, sekedar digeret (bahasa yang baku apa sih?? ). Sampai Plengkung Gading, ketika saia sudah mulai kelelahan, baru menyadari bahwa perjalanan ini masih jauh. Kalau tidak ada niat makanya semuanya akan percuma. Maka saia mulai berniat untuk segera menyelesaikannya.

Suatu perjalanan yang bagi saia bukanlah sekedar memutar benteng untuk mencari berkah, karena berkah merupakan rahasia tuhan, dan nama tempat cukur favorit saia di jakarta. Tapi menyadari ada sesuatu yang jauh lebih bermakna dalam hidup ini, suatu kesabaran, dan tentu saja jiwa yang lapang dan saling mencintai sesama.

Kecintaan akan sebuah tradisi, yang terlihat dari mereka yang begitu menghayati perjalanan ini. Seperti seorang bapak yang membawa dua anaknya, sembari menuntun sepeda. Mukanya cerah sekali, ada damai di sana yang tidak saia temukan di muka SBY bahkan. Menjadikan ini tidak sekedar tradisi atau seni budaya, melainkan menjadi sebuah agama yang humanistik.

Prosesi yang panjang ini berakhir dengan 2 gelas aqua yang disediakan gratis di halaman keraton, dan sebuah kalender jawa dengan poto Pak Sultan dan Bu Sultan. Tentu bukan itu tujuan dan akhir dari acara ini melainkan untuk lebih memahami arti kedamaian, rasa cinta, serta kebahagiaan dalam jiwa yang kosong dan dunia yang fana ini.

Meskipun semuanya harus melewati jalan yang susah dan melelahkan. Tapi semoga saja bisa. Sama seperti yang dikatakan teman saia, melalui sms (kan gak boleh ngomong).

Susah banget nih gak boleh ngomong, apalagi banyak cewek2 cantik..”
ahahahahahha

1 Comment

Filed under the journey of life

One response to “Terhanyut dalam Gelombang Senyap

  1. lanjtukan untuk nguri-uri budoyo kito mas, kulo mawon kpngin dateng jogja, tumut grebek npo acara npo kmwaon ten kraton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s