Transformasi Media

Tahun 2010 sudah dimulai dan kita bersiap untuk memasuki dasawarsa kedua di abad ke 21 ini. Beberapa unsur yang menjadi trend di rentang 2000-2009 adalah adanya pergerakan sosal masyarakat yang lebih cepat, bahkan terkadang di  belahan bumi tertentu jauh lebih cepat dibandingkan lainnya. Kemudian unsur yang kedua adalah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat masif. Kecepatan akses berita, informasi, serta data lainnya menjadi sangat penting guna menunjang keberlangsungan hidup manusia. Sehingga sering disebut siapapun yang memiliki informasi dialah yang akan menguasai dunia. Hal ini lah yang menjadi rantai terpenting yang menghubungkan 3 hal vital, produksi, distribusi, dan konsumsi.

Mungkin kita telah mendengar di berbagai belahan dunia, kolapsnya media cetak seperti surat kabar harian, atau apapun yang berbasis cetak dan kertas dikarenakan makhluk yang bernama internet. Dengan penggunaan internet, luas distribusi media transformasi informasi bahkan dapat menjangkau seluruh dunia. Kemudian dengan biaya yang sangat minim, serta sumber daya, khususnya manusia, yang sangat kecil. Terkadang media informasi online hanya mengandalkan beberapa orang saja. Kepala Produksi merangkap fotografer, kepala redaksi merangkap editor, dan kemungkinan besar semua posisi di sana merangkap sebagai wartawan.

Jika dibandingkan media cetak, maka media di televisi atau radio sangatlah beruntung, tidak terlalu kena imbasnya, namun dengan demikian hampir semua media televisi kini mempunyai situsnya sendiri yang dapat digunakan untuk mengakses informasi kapanpun dan dimanapun. Kemampuan beradaptasi yang cepat mampu mengubah media televisi menjadi sebuah media yang sangat dinantikan, dan menjanjikan tentunya. Namun tentunya ini juga harus memiliki pondasi yang kuat, baik internal maupun external. Dari segi internal yakni budaya kerja dari media televisi itu sendiri yang menuntut profesionalitas tinggi, loyalitas teguh terhadap dunia jurnalistik, serta tingkat kesejahteraan yang cukup bagi para karyawannya, hal ini lah yang akan membuat sebuah media televisi lebih bernama. Kemudian dari aspek eksternal yaitu media televisi juga harus memiliki massa konsumen yang kuat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kuantitas dilihat dari distribusi wilayah, tingkat pendidikan atau pekerjaan, atau dari aspek usia. Hal berikutnya adalah kualitas, yaitu adanya feedback dari konsumennya terhadap siaran media televisi itu sendiri, baik disalurkan melalui kritik, saran, survey, maupun dengan meningkatkan acara yang lebih partisipatif dengan konsumennya. Hal ini yang yang menjadikan media televisi lebih bermakna.

Jika menilik yang terjadi di Indonesia nampaknya belum separah yang terjadi di AS misalnya. Tiras media cetak tetap mengalami kenaikan, meskipun tak sedikit nama baru yang langsung hancur terpuruk kembali. Namun, kondisi yang menggembirakan datang dari dunia pertelevisian di negeri ini. Melonjaknya angka jumlah televisi swasta, baik nasional dan lokal, menggambarkan euphoria tersebut. Hal ini didukung pula dengan kebijakan pemerintah dan “kebijakan pasar”. Ya, jelas sekali kebijakan pasar yang  signifikan adalah membanjirnya produk-produk elektronik dari daratan china. Terlepas dari itu semua, lebih dari satu dasawarsa negeri ini berada di era reformasinya, pasti ada guncangan serta harapan di dunia informasi di Indonesia, khususnya untuk media televisi.

Ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai kritik. Pertama, Degradasi Waktu. Pada saat kemunculan televisi swasta masing-masing berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam penyampaian informasi, yakni siaran berita. Alokasi waktu yang disediakan untuk siaran berita masih cukup banyak. Namun dalam waktu sekitar 4-5 tahun terakhir, justru masyarakat melihat televisi bukan untuk melihat berita, melainkan mencari hiburan, dengan sinetron, acara musik lipsync, reality show yang sangat “real”, dan berbagai program non berita. Kedua, Degradasi Kualitas. Dengan merebaknya tayangan-tayangan hiburan di televisi, tidak diiringi dengan kualitas yang sepadan. Televisi, meskipun bukan sebagai corong pemerintah lagi, namun tetap disebut-sebut sebagai alat pembodohan massal terbesar, melalui membanjirnya tayangan-tayangan yang tidak berkualitas, mulai cerita sinetron yang tidak masuk akal, reality show yang ternyata adalah rekaan produser guna menaikkan rating semata, dan hal semacamnya.

Ketiga adalah Degradasi Moral. Dengan melihat dua gejala sebelumnya, kini media televisi harusnya berkaca. Media tidak hanya bersifat menginformasikan sesuatu, ataupun menghibur, namun mempunyai tanggung jawab moral kepada para pemirsanya. Bahwa masyarakat juga mempunyai hak untuk cerdas, untuk menerima dengan jelas segala apa yang ditampilkan di televisi. Bagaimana mungkin masyarakat bisa menjadi cerdas apabila cerita sinetron yang dilihat misalnya masih yang kaya-raya terus, atau yang penampilan fisiknya cantik dan ganteng saja. Masyarakat butuh sesuatu yang benar-benar ada di sekitarnya. Yang terakhir adalah mulai adanya kartel di media televisi swasta nasional kita. Memang jumlah televisi swasta nasional kita banyak, lebih dari sepuluh memang, namun kepemilikannya hanya segelintir saja. Hal ini mendasari adanya ketakutan bahwa jiwa independen jurnalis ini hilang karena ancaman modal yang begitu besar dari para juragan. Misalnya ada salah satu direksi dari grup induknya terkait dengan kasus tertentu, maka seluruh televisi swasta yang dimilikinya tidak boleh untuk meliput atau memberitakannya. Dan beberapa macam contoh lainnya yang hampir serupa.

Namun di balik semua terpaan yang ada, pasti tetap ada harapan, meskipun hanya sebatas garis tipis. Salah satu diantaranya adalah mencuatnya berbagai isu nasional sama yang hangat yang diusung oleh media televisi, kemudian dibuat menjadi sebuah bola salju, yang lambat laun akan membesar. Tidak peduli isu itu hancur atau berhasil, namun yang pasti sudah ada kepedulian yang tinggi dari masyarakat, karena dengan rasa peduli itu akan berkesan di para penikmatnya, meski hanya sedikit. Salah satu contoh adalah Kasus Prita Mulyasari, kemudian yang berkembang menjadi Koin Peduli Prita. Kemudian harapan selanjutnya adalah meningkatnya rating siaran televisi swasta nasional yang mengusung berita, misal TvOne dan MetroTv. Dilihat 2-3 tahun terakhir ini progress kedua televisi ini sangat bagus, dilihat dari kualitas, program yang ditayangkan, tanggapan masyarakat, serta penampilan yang sudah jauh lebih hangat, trendi, dan bersahabat.

Realita ini akan terus dibangun dan berkembang selaras dengan perlembangan social masyarakat yang pasti sudah akan jauh semakin cerdas dan haus akan informasi. Media televisi sebagai salah satu media informasi yang utama di tanah air ini masih sangat mungkin akan berubah, mengikuti trend, dan tentu saja ceruk keuntungan di televisi berbasis berita masih sangat terbuka lebar, sehingga kemungkinan dalam 5-10 tahun lagi akan jauh lebih banyak televisi yang menampilkan berita, tentu tanpa lupa dengan jiwa jurnalisnya, yakni  informatif, transparan, dan obyektif.

Leave a comment

Filed under review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s