Category Archives: Politics

Ya, semoga saja.

Hari ini, Selasa, 10 Juli 2012. Besok adalah Rabu, 11 Juli 2012. Hari pemilihan suara untuk memilih gubernur DKI Jakarta. Dari sekian banyak kandidat, ada satu yang mengusik pikiran gw.

Namanya Faisal Basri – Biem Benyamin.

Gw gak akan jelasin siapa itu Faisal Basri dan Biem Benyamin. Lo bisa cari tau sendiri di google.
Gw itu memang bukan warga DKI Jakarta, dulu lahir, dan besar di Jakarta, sempat punya KTP DKI JKT beberapa tahun, kemudian pindah ke Depok.

Dari sekian banyak tulisan, quotes, dsb ttg Faisal-Biem, ada satu yang bikin gw berpikir.

“Ini bukan soal menang-kalah, tapi seberapa kuat kita mau berjuang melawan status quo!”

Gw tiba-tiba ingat akan temen gw, fans Newcastle United.
Gw yg fans dari MU, itu bingung, ini orang apa yang dipikirnya. Kenapa malah suka klub macam Newcastle United. Klub yang bagus sih, tapi ya gak bagus2 amat juga.
“ini bukan soal gelar juara atau tidak, ini soal lo berani ato gak ngelawan dominasi The Big Four”
Gila.

Ya. Gila.
Bayangkan, pasangan ini gak didukung parpol. So, dana nya berarti harus benar2 kuat.
Dipastikan menang juga gak. Gak seperti kandidat incumbent atau bapak walikota terbaik di dunia itu yang selalu dinominasikan no urut 1 atau 2 di survey.

Dengan segala keterbatasan itu, Faisal-Biem berani maju menyongsong Pilkada, dengan mengajak seluruh warga DKI Jakarta untuk bekerja bersama-sama. Berdaya bareng-bareng

Seumur hidup gw, baru sekali gw menyumbangkan suara di pemilu.
Pilkada 2007, gw lg d luar kota.
Pemilu 2009 ikut, itu pun hanya mencontreng calon DPD dari Jawa Barat. M. Kusnaeni (Bung Kus). Ada yang gak tau Bung Kus ?? pasti gak pernah nonton bola di RCTI.
Bung Kus menang ? enggak. Tapi saya senang, saya pilih calon yang saya anggap sesuai dengan keinginan saya untuk memajukan sepakbola nasional.

Balik lagi.
Gw dari dulu memang selalu gak pernah peduli dengan para politisi. Beda dengan beberapa teman2 gw yg lulus kuliah langsung merapat ke beberapa parpol, ataupun organisasi yg berafiliasi politik lainnya.

Gw gak pernah berpikir untuk mengharapkan banyak hal baik dari pemerintah, mengharapkan jalan gak bolong aja udah alhamdulilah.
Apalagi, ide muluk2 seperti menyelesaikan jalanan macet. Bagaimana macet selesai kalau kita sendiri masih suka terobos lampu merah, dan gak tertib kalau antri macet.
Sama kaya Timnas Indonesia, mau pelatihnya Pep Guardiola, Jose Mourinho, atau Vicente Del Bosque sih gak akan pernah pernah bagus timnya, kalau pemain sepakbolanya sendiri udah males main bola.

Intinya, siapapun pemimpinnya, gak akan pernah berubah selama warganya sendiri gak akan mau kerjasama.
Selama ini yang gw lihat, sebagai orang yang awam politik, tipikal pemimpin politik di Indonesia adalah “udah deh, yg penting lo happy, semua gw yg atur”.
Macam dia Superman aja. Sekalinya ada yang ke warga, paling minta doa restu.

Jadi ketika ada calon gubernur DKI JKT yg menawarkan tagline “Berdaya bareng-Bareng”, gw senang, sekaligus sedih.
Senang, karena akhirnya ada pemimpin yang mau ngajak warganya bekerja bersama-sama untuk menjadikan kota yang lebih baik.
Sedih, karena ini sudah pasti ditentang oleh orang2 yang udah mapan, dan gak mau tahu kondisi jakarta.

Jakarta bukan hanya milik pak RT, pak RW,
Jakarta bukan milik pengusaha hanya peduli profit oriented.
Jakarta bukan hanya milik kelompok anarkis yang kalau bulan puasa suka razia
Jakarta bukan milik geng motor yang kebut2an di jalanan
Jakarta bukan milik alay yang selalu siap sedia datang kalau ada acara macam Inbox, Dahsyat, dll
Jakarta bukan milik para kaum belanja yg selalu update kalau ada midnight sale.
Jakarta bukan milik kaum A, kaum B, kaum C, kaum C.
Kalau pernah melihat buku karikatur milik Benny & Mice ttg 100 tokoh yang mewarnai Jakarta.
Nah itu dia Jakarta.
Jakarta milik semua warga.

Semoga saja calon no 5 ini bisa mendapat suara yang cukup banyak, hingga ke putaran ke 2.
Semoga saja calon no 5 ini jika menang dapat benar-benar memberdayakan warganya.
Ya semoga saja.
Karena saya hanya dapat berdoa, dan tentu terselip sedikit harapan.

JD
-pemuda kampung utan-

*Maaf Jika tulisan saya jelek, karena memang begitulah adanya. Yang penting saya ikhlas. Orang ikhlas banyak rejeki. Amin.

Leave a comment

Filed under Politics, Urban Life

Demokrat 1

Partai Demokrat kini mengalami ujiannya yang kedua, setelah kasus Century yang berimbas pada distrust dari internal koalisi pendukung SBY, kini menghadapi ujian dari segi internal partai. Memilih Demokrat 1. Memilih seorang nakhoda yang mumpuni untuk mengurus partai yang dianggap terbesar saat ini, partai yang akhir-akhir ini mempunyai jargon Nasionalis-Religius.

Tercatat ada 3 nama kuat yang akan diduga akan bersaing dalam pemilihan tersebut. Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, serta Marzuki Ali. Nama pertama ada di eksekutif sebagai seorang Menteri, sementara dua lainnya ada di legislatif, sebagai ketua fraksi dan bahkan ketua DPR. Saya tidak akan berbicara mengenai latar belakang ketiga nama tersebut. Saya pun tidak peduli siapa yang akan menduduki posisi ketua umum. Namun yang menarik bagi saya adalah kondisi internal partai itu sendiri. Baik dari segi soliditas partai sebelum dan setelah Kongres di Bandung, kemudian tanggung jawab partai kepada konstituennya, serta post-modernism in politics khususnya di Indonesia.

Pencapaian terbaik partai Demokrat dalam 10 tahun ini boleh dibilang sangat mengejutkan serta memenuhi target yang diharapkan. Sebagai partai baru dalam Pemilu 2004 silam, partai ini berhasil mendudukkan calonnya sebagai Presiden, bahkan dengan suara yang hanya berkisar di angka 7% untuk tingkat legislatif. Perjalanan yang mulus pun dilalui dalam 5 tahun perjalanan pertama, dengan dapat diatasinya friksi yang kerap terjadi antara eksekutif dan legislatif, khususnya ketika kasus kenaikan Harga BBM. Kejutan yang terjadi kedua adalah muncul sebagai pemenang dalam Pemilu Legislatif 2009 dengan angka 21%, ada kenaikan sebesar 300% dari tahun 2004. Hal ini sangat mencengangkan karena Partai Demokrat ini belum 10 tahun umurnya. Lalu kemenangan di tingkat legislatif pun diikuti oleh kemenangan presidennya secara mutlak dengan angka sekitar 60%. Dengan kemenangan beruntun seperti itu seharusnya kinerja pemerintah dapat menjadi mudah. Namun hasil Centurygate yang lalu tidak menunjukkan hasil demikian.

Kongres di Bandung yang akan diadakan 21-23 Mei ini akan menentukan tingkat konsolidasi dari Partai serta menjadi penentu kebijakan partai ke depannya. Dengan munculnya 3 nama yang menempati posisi vital di dalam tubuh partai itu sendiri, maka mau tidak mau pasti akan terjadi sedikit perubahan. Karena tidak dapat dipungkiri mungkin akan muncul barisan sakit hati. Bahkan Ramadhan Pohan selaku tim sukses dari Andi Mallarangeng  sudah memberikan janji  posisi Sekjen untuk Anas Urbaningrum. Namun yang paling menentukan adalah persaingan antara Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum, karena keduanya dianggap paling dapat mewakili aspirasi Demokrat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia politik di Indonesia masih berada pada politik citra serta pengkultusan sesorang. Posisi SBY di Demokrat sendiri merupakan satu-satunya alasan kenapa masyarakat percaya pada partai ini.  Sebenarnya partai ini amat berpeluang menjadi sebuah partai modern, atau bisa dibilang post-modern jika ditilik dari kondisi politik di Indonesia. Pertama, kualitas sumber daya manusia di dalam partai ini sendiri yang cukup baik. Kemudian adanya acceptability yang kuat dari masyarakat. Namun yang menjadi permasalahan adalah posisi SBY itu sendiri. Karena seperti kita lihat di beberapa partai politik lain, seperti (Alm) Gus Dur di PKB, Megawati di PDI-P yang terus menerus akan menjadi bumerang bagi internal partai. Intinya adalah partai Demokrat tidak boleh terlalu larut dengan SBY, suatu hari dia harus pergi. Yang tersisa hanya harapan dan bayangan masa lalu. Ini jelas akan berbahaya. Romantisme semu.

Leave a comment

Filed under Politics